Titik Nol KM Bandung

by Antonius Giovanni 0 comments

Masyarakat urban di Kota Bandung yang dinamis dan selalu mobile, dalam satu hari pasti pernah melewati Jl. Asia-Afrika yang terletak di jantung Kota Kembang ini. Jl. Asia-Afrika memang tidak sepanjang namanya, tercatat panjangnya hanya 1,5Km saja, namun jalan tersebut menyimpan sejarah yang menggambarkan kejayaan Bandung pada masa lampau (Bandoeng in den Goeden Ouden Tijd). Seolah-olah jalan ini menjadi saksi bisu bergulirnya roda sejarah Kota Bandung sejak tahun 1810 hingga kini.

 
Masih di jalan yang sama, terdapat sebuah artefak kecil dengan nilai sejarah tinggi, Titik 0 KM Bandung, yang terkadang luput dari pandangan mata para wisatawan atau bahkan warga asli Bandung sekalipun terkadang salah. Lokasi titik nol kilometer Kota Bandung ini terletak di depan Kantor Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat. Jika anda menoleh ke sisi kanan sebelum Hotel Savoy Homann terdapat tugu kecil dengan "stoom-wall" besar menjadi latar belakangnya, dan benda kecil itulah menjadi awal mula sejarah pembangunan Kota Bandung.

Lalu apa yang menjadi latar belakang tempat tersebut dijadikan sebagai Titik 0 KM Bandung? Tentunya kita harus membuka lembaran sejarah 202 tahun yang silam. Sejarahnya berawal ketika pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman-Willem Daendels, seorang tangan kanan Louis Napoleon (Raja Belanda yang juga adik dari Napoleon Bonaparte) yang terkenal akan karya feodalnya yang begitu monumental, yaitu dengan membangun Jalan Raya Pos (Groote Postweg) yang terbentang dari Anyer hingga Panarukan dalam rangka memperkuat pertahanan militer.

Ketika pembangunan jalan tersebut memasuki daerah Tatar Ukur (Bandung), ternyata “blue print” jalan raya berada di 11Km di Utara Ibukota Kabupaten Bandung yang saat itu masih berada di Kota Krapyak, Dayeuhkolot. Mau tidak mau, demi kelancaran admistrasi semua perangkat kabupaten dipindahkan ke Bandung (Alun-Alun) yang saat itu masih menyandang predikat desa atas perintah Daendels kepada Bupati Wiranatakusuh II (Dalem Kaum) tercatat pada tanggal 25 Mei 1810.

Groote Postweg yang sedang dibangun di desa Bandung ini  harus membelah sungai Cikapundung, maka dibangunlah sebuah jembatan kayu (dekat Gedung Merdeka) untuk menghubungkan jalan tersebut, yang dibantu oleh penduduk Cikapundung Kolot. Setelah jembatan tersebut rampung, Daendels menjadi orang yang pertama berjalan kaki melintasi jembatan Cikapundung lalu berjalan ke arah Timur. Didampingi Bupati Bandung pada suatu titik Daendels menancapkan tongkat kayu dan berkata "Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!"

Di tempat Daendels menancapkan tongkatnya tersebut, masyarakat kemudian membuat tanda yang menyatakan Kilometer 0 Kota Bandung.

Dua abad kemudian, Bandung kini telah bertransformasi dari sebuah desa kecil yang sepi dengan dikelilingi oleh pengunungan menjadi sebuah kota yang sesak dengan bangunan dan kendaraan. Titah yang diucapkan oleh Daendels masih bergulir hingga kini, pembangunan Kota Bandung begitu pesat walaupun tidak terarah. Sayang Daendels tidak dapat menggenapi ikrarnya untuk datang kembali ke Bandung,  Pada Tahun 1811 dia harus hengkang dari Hindia Belanda.

Referensi: 
“Bandoeng”, Servire B.V. Katwijk, Holand, 1976.
“The History of Java Volume. 1”, Thomas Stamford Raffles, London, 1830.

Untuk Kamu Yang Ada Di Sepertiga Malam

by Antonius Giovanni 0 comments

Aku mungkin memang tak begitu sering mengumbar kalimat romantis atau sejenisnya. Sikapku padamu tak selalu manis layaknya pasangan lain yang mabuk asmara. Aku mungkin tak selalu membuatmu bahagia, bahkan seringkali aku menyakiti perasaanmu dengan perkataan atau perbuatan yang angkuh. Beginilah aku, dengan segala kekuranganku.

Aku mulai terpikat dengan tutur kata yang kamu gunakan dan kagum dengan caramu memandang dunia. Bahkan kurasa aku mulai menyukai cara setiap kali kamu memberi saran di setiap cerita yang kubagikan.

Entah bagaimana semua bisa terjadi, aku tidak tahu. Kini kamu masuk dan memenuhi sudut terpencil di dalam pikiran sehingga memenuhi relung hati dan semua itu terjadi begitu cepat, tanpa banyak teori.

Aku melihatmu, mengenalmu, lalu aku menyukaimu. Sesederhana itulah kamu mulai menguasai hari-hari yang ku jalani. Kamulah yang saat ini menjadi penyebab rasa semangat, menjelma jadi senyum yang tak bisa ku jelaskan dengan kata-kata.

Jika kali ini aku membuka hati dengan kamu yang baru, aku hanya berharap kesalahan yang dulu pernah terjadi tidak akan terulang kembali. Ingin aku mendekapmu dengan erat seperti selama ini aku melindungi hatiku sendiri, agar kamu juga menjadi doa untuk cerita yang baru.

Event: Jambore Consina Nasional I

by Antonius Giovanni 2 comments

Consina merupakan salah satu produsen kegiatan alam bebas di Indonesia akan mengadakan acara Jambore Consina Nasional (JAMCONAS) pada tanggal 27-28 Oktober 2014 di Gunung Gede, Jawa Barat. Acara tersebut diadakan guna memperingati Hari Sumpah Pemuda dan mengajak semua pendaki untuk menjaga kelestarian gunung.

Selain itu, peserta akan diajak berdiskusi dengan beberapa pendaki senior terkait dengan usaha pelestarian alam dan edukasi mengenai bagaimana mendaki gunung yang aman. Hal ini sangat penting karena banyak pendaki pemula dan masyarakat umum yang mulai tertarik dengan kegiatan pendakian gunung akibat salah satu film 5CM.

Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Consina Outdoor Service.

Pesta Demokrasi 2014

by Antonius Giovanni 0 comments

09 Juli 2014 merupakan hari yang cukup penting bagi rakyat Indonesia, hal itu berkenaan dengan Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden periode 2014-2019. Pemilu disebut jg sebagai pesta demokrasi, karena dengan pemilu rakyat Indonesia memilih langsung siapakan yang akan menjadi pemimpin negara ini pada periode selanjutnya. Kegiatan dalam mendukung salah satu Calon Presiden dan Wakil Presiden merupakan hal yang wajar kita temui selama masa pemilu.

Akan tetapi pada Pemilihan Umum kali ini saya merasakan sebagai Pesta Demokrasi yang tidak sehat, pendapat tersebut didasarkan pada banyaknya kampanye hitam antar masyarakat pendukung yang saling mencemooh pasangan Capres dan Cawapres satu sama lain dan suasana semakin keruh karena media PERS tidak bersikap netral dan provokatif.

Setelah hari pemilihan usai dilaksanakan juga saya menganggap suasana belum reda, berbagai isu politik terkait pasangan Capres dan Cawapres masih timbul dipermukaan dan sistem hitung cepat untuk hasil Pemilu juga membingungkan karena mempunyai versi yang berbeda antar lembaga.

Bagi saya pribadi, siapa pun yang akan memimpin Indonesia selama lima tahun kedepan mampu mengemban amanah yang diberikan dengan baik.

Untitled

by Antonius Giovanni 0 comments

Hei, sedang apa kamu sekarang?

Kubayangkan dirimu sedang tenggelam ditengah kesibukan. Serius menatap layar, memeras otak untuk bekerja, atau tengah asyik berbincang bersama kawan seperjuangan. Sadarkah dirimu, kamu selalu tampak lebih manis saat sedang berkonsentrasi penuh seperti itu? Aku ingin segera bisa menyapukan jariku di tulang rahangmu. Meletakkan kepala pada jarak antara kepala dan bahumu.

Aku selalu membayangkan bagaimana nanti kita akan bertemu. Apakah akan lucu atau justru romantis? Apapun jalannya, aku berharap kelak kita akan saling menemukan. Bertukar pandangan untuk kemudian tahu.

Sesungguhnya aku tak sabar ingin segera bisa mengajakmu jalan-jalan. Kita memang bukan pasangan yang gila pada kencan romantis.

Hari-hari kita sebagian besar dilalui dengan biasa-biasa saja. Kesibukan kadang membuat kita lupa untuk saling berkirim kabar. Jangankan saling mengirim pesan mesra, ingat memberi kabar sedang di mana saja sudah merupakan hal baik.

Saat malam tiba, kau dan aku akan bertemu di dalam mimpi tanpa banyak bicara. Sekedar memimpikan tentang kita yang sedang menjelajah tanah yang belum kita pijak sebelumnya. Kau dan aku akan bersama mengangkat ransel. Menaklukkan puncak-puncak tertinggi bersama. Naik kereta keliling Jawa, menyeberang ke Bali, hingga menjejakkan kaki di Nusa Tenggara atau tentang Kau yang gigih berburu penerbangan termurah ke Papua sementara aku mengemas logistik untuk ekspedisi kita ke Puncak Jaya. Sesekali kita bentangkan peta dunia dihadapan kita, menunjuk satu tempat secara acak yang kemudian kita doakan jadi destinasi liburan tahunan selanjutnya.

Terima kasih telah mempersiapkan dirimu untuk menyambutku. Kau mengorbankan waktu tidurmu untuk membangunkan ku di pagi hari agar aku tidak terlambat. Terima kasih atas kedewasaan mu. 

Kita bisa berubah jadi monster paling menyeramkan bagi satu sama lain. Aku sudah tak tahan lagi dengan omelan posesif mu yang kadang memang tak ada habisnya. Kamu pun tak lagi bisa mentoleransi kebiasaanku yang terlihat konyol dan menyebalkan di matamu.

Saat aku sedang keras kepala -peluk aku dan ingatkan- mau tak mau salah satu dari kita harus diam. Cinta bukan kompetisi yang perlu menghitung poin menang-kalah. Waktu kau lelah menghadapi egoisme ku, bicaralah. Aku ini tak pandai membaca kode tanpa arah. Di titik kau tak mampu lagi dan ingin pergi, ingat kembali. Tuhan tak mungkin mempersatukan kita hanya untuk semudah itu diakhiri.

Maukah kau jadi kawan terbaikku membangun masa depan? Wanita yang namanya tak pernah lupa kusebut di tiap sujud dan tangkupan tangan.

Kita akan memulai segalanya dari nol. Barangkali kau dan aku tak akan langsung hidup nyaman. Jarak yang jauh dan kesibukan masing-masing membuat kita tak bisa selalu bersama.

Maukah kau menghabiskan masa denganku? Dengan rendah hati menerima segala kurang dan lebihku, mengingatkanku untuk lebih bersabar setiap nada suaraku mulai meninggi karena kesal. Aku tak bisa menjanjikan apa-apa, selain akan lebih berusaha untuk jadi pria yang membahagiakanmu dalam berbagai masa.

Kita akan menua bersama, ditemani tawa dan kerut yang semakin nyata.

SUBSCRIBE

Enter Your Email Address:

GUESTBOOK

 

Antonius Giovanni © 2015 | Powered by: Blogger