Titik Nol KM Bandung


Masyarakat urban di Kota Bandung yang dinamis dan selalu mobile, dalam satu hari pasti pernah melewati Jl. Asia-Afrika yang terletak di jantung Kota Kembang ini. Jl. Asia-Afrika memang tidak sepanjang namanya. Tercatat panjangnya hanya 1,5Km saja, namun jalan tersebut menyimpan sejarah yang menggambarkan kejayaan Bandung pada masa lampau (Bandoeng in den Goeden Ouden Tijd). Seolah-olah jalan ini menjadi saksi bisu bergulirnya roda sejarah Kota Bandung sejak tahun 1810 hingga kini.

 
Masih di jalan yang sama, terdapat sebuah artefak kecil dengan nilai sejarah tinggi, Titik 0 KM Bandung, yang terkadang luput dari pandangan mata para wisatawan atau bahkan warga asli Bandung sekalipun terkadang salah. Lokasi titik nol kilometer Kota Bandung ini terletak di depan Kantor Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat. Jika anda menoleh ke sisi kanan sebelum Hotel Savoy Homann terdapat tugu kecil dengan "stoom-wall" besar menjadi latar belakangnya, dan benda kecil itulah menjadi awal mula sejarah pembangunan Kota Bandung.

Lalu apa yang menjadi latar belakang tempat tersebut dijadikan sebagai Titik 0 KM Bandung? Tentunya kita harus membuka lembaran sejarah 202 tahun yang silam. Sejarahnya berawal ketika pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman-Willem Daendels, seorang tangan kanan Louis Napoleon (Raja Belanda yang juga adik dari Napoleon Bonaparte) yang terkenal akan karya feodalnya yang begitu monumental, yaitu dengan membangun Jalan Raya Pos (Groote Postweg) yang terbentang dari Anyer hingga Panarukan dalam rangka memperkuat pertahanan militer.

Ketika pembangunan jalan tersebut memasuki daerah Tatar Ukur (Bandung), ternyata “blue print” jalan raya berada di 11Km di Utara Ibukota Kabupaten Bandung yang saat itu masih berada di Kota Krapyak, Dayeuhkolot. Mau tidak mau, demi kelancaran admistrasi semua perangkat kabupaten dipindahkan ke Bandung (Alun-Alun) yang saat itu masih menyandang predikat desa atas perintah Daendels kepada Bupati Wiranatakusuh II (Dalem Kaum) tercatat pada tanggal 25 Mei 1810.

Groote Postweg yang sedang dibangun di desa Bandung ini  harus membelah sungai Cikapundung, maka dibangunlah sebuah jembatan kayu (dekat Gedung Merdeka) untuk menghubungkan jalan tersebut, yang dibantu oleh penduduk Cikapundung Kolot. Setelah jembatan tersebut rampung, Daendels menjadi orang yang pertama berjalan kaki melintasi jembatan Cikapundung lalu berjalan ke arah Timur. Didampingi Bupati Bandung pada suatu titik Daendels menancapkan tongkat kayu dan berkata "Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!"

Di tempat Daendels menancapkan tongkatnya tersebut, masyarakat kemudian membuat tanda yang menyatakan Kilometer 0 Kota Bandung.

Dua abad kemudian, Bandung kini telah bertransformasi dari sebuah desa kecil yang sepi dengan dikelilingi oleh pengunungan menjadi sebuah kota yang sesak dengan bangunan dan kendaraan. Titah yang diucapkan oleh Daendels masih bergulir hingga kini, pembangunan Kota Bandung begitu pesat walaupun tidak terarah. Sayang Daendels tidak dapat menggenapi ikrarnya untuk datang kembali ke Bandung,  Pada Tahun 1811 dia harus hengkang dari Hindia Belanda.

Referensi: 
“Bandoeng”, Servire B.V. Katwijk, Holand, 1976.
“The History of Java Volume. 1”, Thomas Stamford Raffles, London, 1830.

Related Articles :


0 comments:

Post a Comment

SUBSCRIBE

Enter Your Email Address:

GUESTBOOK

 

Antonius Giovanni © 2016 | Powered by: Blogger